MAJENE – Ratusan siswa SMP Negeri 1 Majene mengikuti kegiatan simulasi dan evakuasi bencana gempa bumi berpotensi tsunami yang dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majene bekerja sama dengan Lembaga Peningkatan Sumber Daya Manusia Masyarakat Majene (LPSDMM Majene), Kamis (29/10/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya kalangan pelajar yang berada di wilayah pesisir, dalam menghadapi ancaman bencana gempa bumi dan tsunami.
Kepala BPBD Kabupaten Majene, Suardi, mengatakan bahwa edukasi kebencanaan melalui simulasi langsung sangat penting untuk membangun kesadaran dan kesiapan generasi muda dalam menghadapi situasi darurat.
Menurutnya, melalui kegiatan tersebut, para siswa diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ketika gempa bumi terjadi, mulai dari cara melindungi diri, memahami prosedur evakuasi, hingga mengenali jalur menuju tempat yang aman apabila terdapat potensi tsunami.
“Melalui simulasi ini, adik-adik belajar bagaimana bersikap saat terjadi gempa bumi, memahami langkah evakuasi yang benar, serta mengenali pentingnya menyelamatkan diri menuju tempat yang aman jika terjadi potensi tsunami,” ujar Suardi.
Ia menjelaskan, wilayah pesisir memiliki tingkat kerentanan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas tektonik, termasuk kemungkinan terjadinya gempa bawah laut yang dapat memicu gelombang tsunami.
Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam meminimalkan risiko dan jumlah korban jiwa ketika bencana terjadi.
Suardi menegaskan, simulasi dan evakuasi mandiri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan latihan nyata untuk membangun refleks, menguji jalur evakuasi, serta memastikan masyarakat memahami cara menuju tempat evakuasi sementara maupun dataran tinggi dengan cepat dan tanpa kepanikan.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak kalangan masyarakat, terutama pelajar yang merupakan kelompok penting dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini.
“Saya berharap kegiatan simulasi ini dapat memperkuat upaya mitigasi bencana bagi kita semua, dalam rangka meminimalkan dampak gempa bumi dan tsunami yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Ini bukan sekadar latihan, tetapi bekal penting agar kita lebih siap, sigap, dan tidak panik saat bencana terjadi,” ungkapnya.
Suardi juga mengajak seluruh masyarakat untuk selalu mengenali potensi risiko bencana di lingkungan masing-masing, memahami langkah penyelamatan diri, serta membangun kesadaran bahwa kesiapsiagaan merupakan tanggung jawab bersama.
Selain simulasi gempa dan evakuasi tsunami, kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Majene.
Dalam sesi edukasi tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai penanganan korban bencana, khususnya bagi anggota Palang Merah Remaja (PMR) di lingkungan sekolah.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan pertolongan pertama dan penanganan korban dengan kondisi luka ringan hingga luka berat, serta pemahaman mengenai prosedur penanganan korban meninggal dunia sesuai prinsip kemanusiaan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa SMPN 1 Majene tidak hanya memahami teori kebencanaan, tetapi juga memiliki keterampilan dasar dan kesiapan mental dalam menghadapi situasi darurat.
Upaya edukasi dan simulasi sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana, khususnya di Kabupaten Majene yang memiliki kawasan pesisir dengan potensi ancaman gempa bumi dan tsunami.









