MAJENE – Menjadi guru sekolah dasar bukan sekadar mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, dibutuhkan kesabaran, ketulusan, serta kasih sayang untuk membimbing anak-anak mengenal dunia pendidikan dan membangun karakter sejak usia dini.
Nilai-nilai itulah yang terus ditanamkan Laswi Ninayanti, S.Pd., guru kelas I di SDN 34 Deteng-Deteng, Kabupaten Majene. Dengan pendekatan yang penuh kelembutan, ia berupaya menjadikan ruang kelas sebagai tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar serta tumbuh.
Bagi Laswi, guru kelas awal memiliki peran istimewa dalam perjalanan pendidikan seorang anak. Mereka bukan hanya pendidik, tetapi juga sosok yang membantu menggantikan kehangatan seorang ibu selama anak berada di sekolah.
Peran tersebut menjadi semakin penting ketika siswa baru meninggalkan lingkungan taman kanak-kanak dan mulai beradaptasi dengan suasana sekolah dasar. Pada masa transisi ini, sebagian anak masih membutuhkan perhatian ekstra, pendampingan emosional, dan dorongan untuk membangun keberanian.
Laswi memahami bahwa setiap anak memiliki karakter dan kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, ia memilih kesabaran sebagai landasan utama dalam mendidik, sembari menghadirkan kasih sayang dalam setiap proses pembelajaran.
“Mendidik anak-anak dengan penuh kesabaran hingga mereka menjadi hebat adalah keahlian khusus yang lahir dari jiwa seorang ibu,” ujar Laswi, Selasa (27/10).
Menurutnya, mendampingi siswa kelas I tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi pelajaran. Guru juga perlu memahami perasaan anak, memberikan perhatian, dan membantu mereka melewati berbagai tantangan kecil dalam keseharian di sekolah.
“Di kelas satu, kami tidak hanya mengajar membaca atau berhitung. Kami menyeka air mata mereka, merapikan baju yang kusut, dan mendengarkan cerita-cerita kecil mereka dengan penuh perhatian,” tuturnya.
Kesabaran Menjadi Kunci Membangun Kepercayaan Diri
Bagi Laswi, proses belajar anak tidak bisa diseragamkan. Ada anak yang cepat mengenal huruf, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengeja kata demi kata. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk menyerah, melainkan kesempatan bagi guru untuk menemukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.
Dengan pendampingan yang sabar, anak-anak diharapkan semakin percaya diri untuk mencoba, berani bertanya, dan tidak takut melakukan kesalahan ketika belajar. HG









